Kelelahan
dan kejenuhan mulai tergambar pada beberapa wajah peserta Kemah Raya 2015 KPPM
MD Malang I, (5/7). Tapi suasana di dalam tenda acara masih terjaga
semangatnya. Memang sesi terakhir dalam kegiatan Kemah Raya 2015 dimulai tidak
sesuai jadwal, molor lebih dari satu jam yang direncanakan. Suasana putih mulai
memenuhi tenda acara, efek tshirt berwarna putih yang dikenakan seluruh peserta
dan panitia.
Peserta
dibagi dalam kelompok yang berisi 2-3 jemaat per kelompok. Tiap jemaat
membagikan rencana pelayanan ke depan yang kemudian disharingkan satu sama lain.
Pembahasan sharing yang dipimpin Pdt. Natanael Hermawan STh. dari GKJW Jemaat
Sidoarjo dan dimoderatori Jhonatan Roberdo atau yang akrab disapa Bebed, warga GKJW
Jemaat Sukun, Malang.
Diskusi
antar peserta dengan pembicara kurang berjalan dengan baik, mengingat cuaca
semakin terasa panas, dengan terik matahari yang menyengat. Namun, Pdt.
Natanael dan Bebed tak henti-hentinya terus mengobarkan semangat dan memotivasi
peserta, supaya tidak merasa minoritas sebagai pemuda GKJW.
“Menjadi
pemuda GKJW itu harus berhenti berpikir jika dirinya minoritas. Menanggalkan Sindrom
minoritas, yang menghambat kita untuk
bertumbuh. Keluar dari tempurung katak, untuk bergerak keluar, bersaksi atau berbuat
baik dalam komunitas yang kita miliki. Entah komunitas hobi, seni atau minat,”
terang Pdt. Natanael panjang lebar.
Ditambahkan
Bebed, komitmen dan konsistensi menjadi modal penting bagi pemuda untuk keluar
dari sindrom minoritasnya. “Bukan seberapa kecil kita, tapi apa yang sudah kita
perbuat untuk kebaikan sesama, nama Tuhan, dan gereja.”
Sesi yang cukup singkat,
namun berharap menjadi bekal penting, tidak hanya bagi peserta, namun bagi setiap
orang yang terlibat dalam Kemah Raya 2015 ini. Ayo budal! Ayo bersaksi dan
berarti bagi sesama ciptaan. (HPH)
0 komentar:
Posting Komentar